Langsung ke konten utama

Terkoyak (Daun Dan Perahu ku)

Tulisanku adalah perahu ku. Menjadi media kala mulutku bisu. Menjadi suara ketika sukma ku rapuh. Mengangkutku menyebrangi lautan keliru. Tuan menaiki perahu ku. Meski tuan tak punya dayung.

"Kemana tuan ingin membawaku?"

Katanya menuju tempat dimana aku ingin berlabuh. Di mana saja asalkan tuan mau. 
 
"tuan, maka ambil lah lenganku. jadikanlah lenganku ini sebagai dayung. jika tuan mau.." 


Tulisan ku menjadi perahu. Kesana-kesini ia mau. kesana-kesini ia keliru. kesana-kesini tuan membawaku. bersama lenganku.

"Tuan, apakah tuan tahu jalan?" 

Perjalanan masih panjang, tuan bilang. 
Tapi tuan, sangat gelap didepan. 
Rasakan, tuan bilang. 

Tulisan ku adalah dedaunan kering. yang gugur dan tergeletak diatas aspal. warna nya kecoklatan hingga diabaikan sang tuan. 

"Tuan, Jika tuan memungut ku, ditengah lautan, aku mempunyai dua harapan. Tuan ingin membuangku ketempat sampah atau tuan ingin membawa ku pulang. sebagai lambang perasaan. Jikalau tuan membuangku ketempat sampah, maka aku tidaklah akan tersinggung, tuan. Mana pantas lautan di kotori oleh dedaunan. Tapi, jika tuan menaiki aku kedalam perahu. Maka tuan tahu, Tidaklah mudah terombang-ambing diatas lautan luas. tidaklah mudah bagi sehelai daun mendayung layaknya perahu seorang diri. tanpa bantuan tuan disini."




Komentar

Postingan populer dari blog ini

satu paragraf tentang lengan :)

kapan terakhir kali kalian merindukan 'lengan'? Seingatku, terakhir kali aku merindukan sentuhan lengan.... saat ini. Setelah hujan turun, dan rintiknya tersisia membasahi jendela. Setelah hujan dan petang berebut tempat pada langit dalam satu waktu. Setelah aku tak lagi bisa membohongi diri, dan tak bisa membohongi hati. setelah aku terbangun dari mimpi panjangku tentang dirimu yang menjauh. hanya itu.

Surat ketiga (kepada: jarak)

Surat ketiga...  Sebelum aku menggoreskan tinta ini padamu, berjanjilah. Berjanjilah bahwa kau akan menyampaikan surat ini kepadanya. Sampaikan setiap baris berisi pesan tentang rasa kehilanganku. Tentang rasaku yang masih tersimpan rapi dibalut kenangan itu. Dan aku juga... dan aku juga ingin menitipkan peluk hangatku, untuknya . Yang berada jauh disana. di jarak yang selalu ingin aku hancurkan sejak aku menyadari bahwa sepenuhnya aku takkan mampu melupakan setiap peluk dan ciuman hangat yang mendarat dikeningku. Dan kepadamu, Jarak. Aku marah sekali padamu. Kau tahu, kan? Kau tahu kan kalau aku sangat membencimu? Aku sangat-sangat membencimu. Hingga aku menutup telingaku ketika ada segelintir orang yang berbicara tentangmu. Tentang dirimu yang memisahkan aku dengan seseorang yang teramat penting didalam hidupku. Orang itu penting, penting karena ialah satu-satunya orang yang bisa membuatku merasa bahwa kebahagiaan itu memang benar-benar tercipta untukku. Hanya ...

Aku merelakan cinta, bukan mimpi

Pernahkah kalian merelakan seseorang yang kalian sayangi? Uhm.. maksudku.. Pernahkan kalian meyakinkan diri kalian bahwa kalian bisa dan mampu untuk merelakan seseorang yang kalian sayangi pergi? Kalau pernah, berarti kita sama. Kita pernah berusaha semampu kita untuk merelakan seseorang yang kita sayangi untuk pergi. Pergi dari kehidupan kita, dan membiarkan   diri kita terluka hingga sembuh dengan sendirinya. Kalau aku... Aku menganggap ‘seseorang’ itu sebagai mimpiku. Mimpi indahku. Mimpi terindah kedua setelah mimpiku untuk menjadi seorang penulis. Penulis yang mampu membuat orang lain bahagia karna tulisanku. Karena setiap kata-kata yang kuhias hingga orang yang membacanya bisa terus tersenyum. Kalau kalian, apa mimpi kalian? Apapun mimpi kalian itu, aku yakin. Mimpi kalian pasti sangat indah. Indah dalam bentuk apapun mimpi itu. Entah mimpi untuk bisa selalu bersama orang-orang yang kalian sayangi, atau mimpi untuk bisa selalu merasa bahagia meski terkadang hi...