Langsung ke konten utama

Tidak Ada Jejak Kaki Sendiri yang Patut di Ingat

Didalam sebuah hidup, kebaikan adalah satu-satunya kunci untuk membuka pintu-pintu yang tertutup. Tidak ada satu pun kebaikan yang akan tersia-siakan. atau kebaikan yang tidak menguntungkan. yang ada hanya ‘Kebaikan yang sempat terlupakan.’
Tapi jangan lah sedih. sebab, yang melupakan kebaikanmu hanyalah orang yang kau bantu. Bukan Tuhanmu.
"Kebaikan di mata manusia hanyalah seperti jejak kaki diatas pasir. Ketika ombak datang, maka tak terlihat sudah kebaikan itu. Namun, kebaikan di mata Tuhan  seperti kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya. Selama nya  akan terkenang disana."
Tidak ada yang salah. Hanya saja, terkadang kita lupa disaat kita berbuat baik, kita menaruh harapan disana. seharusnya tidak. Berbuat baik lalu lupakan lah. seperti kau belum melakukan apa-apa bagi seseorang. Maka di titik itulah kau benar-benar berbuat baik. Tidak ada sesuatu yang patut di jadikan alasan untuk pamrih. 
Tidak ada kebaikan (sekecil apapun itu) yang sia-sia. Terkadang hanya kita, manusia biasa yang melupakan bahwa kebaikan yang kecil bisa mendatangkan anugerah yang amat besar. Bagi si pemberi ataupun penerimanya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

satu paragraf tentang lengan :)

kapan terakhir kali kalian merindukan 'lengan'? Seingatku, terakhir kali aku merindukan sentuhan lengan.... saat ini. Setelah hujan turun, dan rintiknya tersisia membasahi jendela. Setelah hujan dan petang berebut tempat pada langit dalam satu waktu. Setelah aku tak lagi bisa membohongi diri, dan tak bisa membohongi hati. setelah aku terbangun dari mimpi panjangku tentang dirimu yang menjauh. hanya itu.

Surat ketiga (kepada: jarak)

Surat ketiga...  Sebelum aku menggoreskan tinta ini padamu, berjanjilah. Berjanjilah bahwa kau akan menyampaikan surat ini kepadanya. Sampaikan setiap baris berisi pesan tentang rasa kehilanganku. Tentang rasaku yang masih tersimpan rapi dibalut kenangan itu. Dan aku juga... dan aku juga ingin menitipkan peluk hangatku, untuknya . Yang berada jauh disana. di jarak yang selalu ingin aku hancurkan sejak aku menyadari bahwa sepenuhnya aku takkan mampu melupakan setiap peluk dan ciuman hangat yang mendarat dikeningku. Dan kepadamu, Jarak. Aku marah sekali padamu. Kau tahu, kan? Kau tahu kan kalau aku sangat membencimu? Aku sangat-sangat membencimu. Hingga aku menutup telingaku ketika ada segelintir orang yang berbicara tentangmu. Tentang dirimu yang memisahkan aku dengan seseorang yang teramat penting didalam hidupku. Orang itu penting, penting karena ialah satu-satunya orang yang bisa membuatku merasa bahwa kebahagiaan itu memang benar-benar tercipta untukku. Hanya ...

Aku merelakan cinta, bukan mimpi

Pernahkah kalian merelakan seseorang yang kalian sayangi? Uhm.. maksudku.. Pernahkan kalian meyakinkan diri kalian bahwa kalian bisa dan mampu untuk merelakan seseorang yang kalian sayangi pergi? Kalau pernah, berarti kita sama. Kita pernah berusaha semampu kita untuk merelakan seseorang yang kita sayangi untuk pergi. Pergi dari kehidupan kita, dan membiarkan   diri kita terluka hingga sembuh dengan sendirinya. Kalau aku... Aku menganggap ‘seseorang’ itu sebagai mimpiku. Mimpi indahku. Mimpi terindah kedua setelah mimpiku untuk menjadi seorang penulis. Penulis yang mampu membuat orang lain bahagia karna tulisanku. Karena setiap kata-kata yang kuhias hingga orang yang membacanya bisa terus tersenyum. Kalau kalian, apa mimpi kalian? Apapun mimpi kalian itu, aku yakin. Mimpi kalian pasti sangat indah. Indah dalam bentuk apapun mimpi itu. Entah mimpi untuk bisa selalu bersama orang-orang yang kalian sayangi, atau mimpi untuk bisa selalu merasa bahagia meski terkadang hi...