Langsung ke konten utama

Elegi Malam Hari

Perjalanan ini masih sangat panjang, Tuhan...
Namun rasanya melelahkan sekali...

Aku terkapar diatas ranjang. Menatap langit-langit kamar yang mulai melapuk. hanya sekadar untuk berpikir. Hanya sekadar untuk menangis. Hanya sekadar untuk meminta...

Perjalanan masih sangat panjang, jauh didepan sana masih sangat gelap. 
Sudah lama sekali rasanya aku tidak berpikir tentang kesenangan.

Aku berpikir bagaimana ibuku makan. 
Aku berpikir bagaimana ayahku minum. 
Aku berpikir bagaimana adikku bersekolah.
Aku berpikir bagaimana hidup ini akan kuteruskan. 

Menangis adalah cara terbaik. Namun berdoa adalah cara terindah. 

Lalu aku berpikir tentang Tuhan. Yang aku percaya tidak akan pernah meninggalkan. 
Lalu aku berpikir tentang orang-orang yang bernasib sama denganku. 
Lalu aku berpikir tentang orang-orang yang membuatku ingin terus berjuang.
Lalu aku berpikir tentang diriku. 
Yang terkadang hanya bisa membisu. Melawan waktu. Melawan diriku. Melawan nasibku. 

"Aku sudah merasakan semua kepahitan yang ada di dunia. Namun yang paling pahit adalah mengharap sesuatu pada manusia."  -Imam Ali Bin Abi Thalib- 



Komentar

  1. Berharap kepada manusia akan mendapatkan rasa kecewa, hanya pada Allah tempat kita berharap :D

    EnjoyBackpacker

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

satu paragraf tentang lengan :)

kapan terakhir kali kalian merindukan 'lengan'? Seingatku, terakhir kali aku merindukan sentuhan lengan.... saat ini. Setelah hujan turun, dan rintiknya tersisia membasahi jendela. Setelah hujan dan petang berebut tempat pada langit dalam satu waktu. Setelah aku tak lagi bisa membohongi diri, dan tak bisa membohongi hati. setelah aku terbangun dari mimpi panjangku tentang dirimu yang menjauh. hanya itu.

Surat ketiga (kepada: jarak)

Surat ketiga...  Sebelum aku menggoreskan tinta ini padamu, berjanjilah. Berjanjilah bahwa kau akan menyampaikan surat ini kepadanya. Sampaikan setiap baris berisi pesan tentang rasa kehilanganku. Tentang rasaku yang masih tersimpan rapi dibalut kenangan itu. Dan aku juga... dan aku juga ingin menitipkan peluk hangatku, untuknya . Yang berada jauh disana. di jarak yang selalu ingin aku hancurkan sejak aku menyadari bahwa sepenuhnya aku takkan mampu melupakan setiap peluk dan ciuman hangat yang mendarat dikeningku. Dan kepadamu, Jarak. Aku marah sekali padamu. Kau tahu, kan? Kau tahu kan kalau aku sangat membencimu? Aku sangat-sangat membencimu. Hingga aku menutup telingaku ketika ada segelintir orang yang berbicara tentangmu. Tentang dirimu yang memisahkan aku dengan seseorang yang teramat penting didalam hidupku. Orang itu penting, penting karena ialah satu-satunya orang yang bisa membuatku merasa bahwa kebahagiaan itu memang benar-benar tercipta untukku. Hanya ...

Aku merelakan cinta, bukan mimpi

Pernahkah kalian merelakan seseorang yang kalian sayangi? Uhm.. maksudku.. Pernahkan kalian meyakinkan diri kalian bahwa kalian bisa dan mampu untuk merelakan seseorang yang kalian sayangi pergi? Kalau pernah, berarti kita sama. Kita pernah berusaha semampu kita untuk merelakan seseorang yang kita sayangi untuk pergi. Pergi dari kehidupan kita, dan membiarkan   diri kita terluka hingga sembuh dengan sendirinya. Kalau aku... Aku menganggap ‘seseorang’ itu sebagai mimpiku. Mimpi indahku. Mimpi terindah kedua setelah mimpiku untuk menjadi seorang penulis. Penulis yang mampu membuat orang lain bahagia karna tulisanku. Karena setiap kata-kata yang kuhias hingga orang yang membacanya bisa terus tersenyum. Kalau kalian, apa mimpi kalian? Apapun mimpi kalian itu, aku yakin. Mimpi kalian pasti sangat indah. Indah dalam bentuk apapun mimpi itu. Entah mimpi untuk bisa selalu bersama orang-orang yang kalian sayangi, atau mimpi untuk bisa selalu merasa bahagia meski terkadang hi...