Langsung ke konten utama

PUISI: Kudengar. Kulihat. Kurasa

Kudengar dari perbatasan
Ada suara-suara alunan
Panggilan manja
Entah kepada siapa

Kulihat dari kejauhan
Ada jejak-jejak yang di campakkan sepatu berkulit itu
Menjerit memanggil namaku
Memohon agar jangan di asingkan

Kurasa ketika awan menghitam
Angin juga berkeliaran
Malang sekali
Rasa-rasanya sebentar lagi ia mati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku merelakan cinta, bukan mimpi

Pernahkah kalian merelakan seseorang yang kalian sayangi? Uhm.. maksudku.. Pernahkan kalian meyakinkan diri kalian bahwa kalian bisa dan mampu untuk merelakan seseorang yang kalian sayangi pergi? Kalau pernah, berarti kita sama. Kita pernah berusaha semampu kita untuk merelakan seseorang yang kita sayangi untuk pergi. Pergi dari kehidupan kita, dan membiarkan   diri kita terluka hingga sembuh dengan sendirinya. Kalau aku... Aku menganggap ‘seseorang’ itu sebagai mimpiku. Mimpi indahku. Mimpi terindah kedua setelah mimpiku untuk menjadi seorang penulis. Penulis yang mampu membuat orang lain bahagia karna tulisanku. Karena setiap kata-kata yang kuhias hingga orang yang membacanya bisa terus tersenyum. Kalau kalian, apa mimpi kalian? Apapun mimpi kalian itu, aku yakin. Mimpi kalian pasti sangat indah. Indah dalam bentuk apapun mimpi itu. Entah mimpi untuk bisa selalu bersama orang-orang yang kalian sayangi, atau mimpi untuk bisa selalu merasa bahagia meski terkadang hi...

Surat ketiga (kepada: jarak)

Surat ketiga...  Sebelum aku menggoreskan tinta ini padamu, berjanjilah. Berjanjilah bahwa kau akan menyampaikan surat ini kepadanya. Sampaikan setiap baris berisi pesan tentang rasa kehilanganku. Tentang rasaku yang masih tersimpan rapi dibalut kenangan itu. Dan aku juga... dan aku juga ingin menitipkan peluk hangatku, untuknya . Yang berada jauh disana. di jarak yang selalu ingin aku hancurkan sejak aku menyadari bahwa sepenuhnya aku takkan mampu melupakan setiap peluk dan ciuman hangat yang mendarat dikeningku. Dan kepadamu, Jarak. Aku marah sekali padamu. Kau tahu, kan? Kau tahu kan kalau aku sangat membencimu? Aku sangat-sangat membencimu. Hingga aku menutup telingaku ketika ada segelintir orang yang berbicara tentangmu. Tentang dirimu yang memisahkan aku dengan seseorang yang teramat penting didalam hidupku. Orang itu penting, penting karena ialah satu-satunya orang yang bisa membuatku merasa bahwa kebahagiaan itu memang benar-benar tercipta untukku. Hanya ...

Coret Pena Untuk Sastra

Akhirnya kabut muncul mendatangkan sepi Mengiringi mawar hitam yang gugur malam ini Aku berdiri diatas api Diatas sang elegi Curam batu kuinjak. beranak-pinak. Sesak... sesak aku berteriak.. Tanpa bicara aku bertanya Tentang luka, tentang sastra Syukur kau ada disini.. Berlari, menarikku dari panas mentari Padamu yang sekuat api, seindah puisi. Tentang sastra.. serta jiwa.. Sampaikan padanya, aku masih ada.